Eksistensi Peralatan Tani Tradisional Berjuang Melawan Modernisasi

4 comments

Derasnya arus globalisasi di segala aspek kehidupan dewasa ini,  berpengaruh pada perkembangan budaya yang ada di pulau Jawa. Globalisasi menyebabkan kebudayaan tradisional semakin tersisih dan kurang diperhatikan, digantikan dengan kebudayaan modern serta kebudayaan asing. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian untuk mengkaji aspek-aspek budaya yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat Jawa.

Salah satu aspek budaya masyarakat Jawa yang saat ini kurang diperhatikan adalah dalam bidang pertanian padi tradisional. Seperti kita ketahui, sejak jaman dahulu mayoritas penduduk di pulau Jawa bekerja dalam bidang pertanian, baik sebagai petani pemilik maupun petani penggarap. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara agraris atau negara pertanian, di mana mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Kebanyakan penduduk di negara ini, khususnya di pulau Jawa bercocok tanam dan mengelola tanah sebagai sumber kehidupan.
Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay

Pertanian padi merupakan salah satu aspek budaya warisan turun-temurun dari nenek moyang kita. Nenek moyang masyarakat Jawa memiliki pengetahuan cara bercocok tanam di lahan pertanian dan berbagai macam peralatan pertanian tradisional yang diwariskan kepada kita. Peralatan tradisional yang dimaksud adalah seperangkat alat yang masih sederhana sifatnya, yang digunakan oleh sekelompok masyarakat secara turun temurun dan merupakan bagian dari sistem teknologi yang mereka miliki menurut konsepsi kebudayaannya. Dalam penggunaan peralatan tersebut, manusia memegang peranan penting dalam menggerakkan atau sebagai tenaga utama.


Baca artikel menarik lainnya di Albabbarrosa

Peralatan pertanian padi tradisional yang digunakan oleh masyarakat Jawa pada umumnya sama. Namun tentu ada perbedaan, perbedaan tersebut biasanya terletak pada nama-nama dari peralatan pertanian antara daerah satu dan lainnya. Misalnya nama peralatan yang digunakan untuk menyiangi rumput dan menggemburkan tanah. Masyarakat Yogyakarta menyebutnya gosrok, sedangkan masyarakat Magetan menyebutnya garuk. Selain itu, perbedaan dapat terlihat pada bahan baku pembuatan, bentuk dan ukuran peralatan yang tidak mungkin sama persis antara daerah satu dan lainnya. Namun pada intinya, fungsi dari peralatan tersebut sama.

 Pemberian nama dalam peralatan pertanian padi tradisional berhubungan dengan peristiwa kebahasaan. Istilah nama sering diartikan sebagai kata sebutan yang dijadikan identitas seseorang untuk memanggil atau menyebut suatu benda agar berbeda dengan yang lain. Nama suatu peralatan dibentuk dari unsur-unsur kebahasaan sebagai pencerminan maksud dan tujuan tertentu. Misalnya kata garu, yaitu peralatan pertanian padi tradisional yang digunakan untuk meratakan tanah setelah dibajak. Garu diartikan dengan ‘nyigar ru’ atau membelah tanah. Kata merupakan suatu unsur dari kebahasaan, sedangkan kebahasaan merupakan salah satu unsur kebudayaan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan unsurunsur lain kebudayaan tersebut.

Masyarakat pemakai bahasa Jawa dalam bidang pertanian padi tradisional memiliki kekayaan kosa kata yang sangat beragam. Hampir seluruh aspek-aspek dalam proses pertanian padi tradisional memiliki nama yang berbeda. Akan tetapi, pola kehidupan masyarakat akan selalu berkembang seiring dengan pola pembangunan yang terus menerus dilaksanakan. Teknologi modern sedikit demi sedikit akan menggeser peranan teknologi tradisional. Seiring berjalannya waktu, peralatan pertanian tradisional warisan nenek moyang mulai ditinggalkan oleh masyarakat Jawa karena dianggap kurang efektif dan efisien. Peralatan-peralatan pertanian tradisional tersebut digantikan dengan peralatan-peralatan yang lebih modern dan canggih yang dianggap memiliki daya guna yang lebih tinggi.

Penggunaan peralatan modern secara tidak langsung berpengaruh pada hilangnya kosa kata yang dimiliki masyarakat Jawa. Banyak peralatan padi tradisional yang sudah tidak digunakan lagi, sehingga peralatan tersebut mulai dialihfungsikan atau hilang. Dikarenakan peralatan tradisional tersebut sudah tidak dipakai, maka nama-nama peralatannya juga sudah tidak digunakan oleh masyarakat pemakai bahasa. Sehingga lambat laun nama-nama peralatan pertanian padi tradisional mulai terlupakan, dan pada akhirnya akan terjadi kehilangan kosa kata bahasa Jawa pada bidang tersebut.

Meskipun sudah tertinggalkan oleh zaman, harusnya peralatan tradisional tersebut tetap dijaga eksitensinya. Atau mungkin malah dikembangkan dengan bahan dan produksi yang sesuai zaman yang modern ini.

Warisan nenek moyang adalah harta bagi cucunya, cucu yang membiarkan harta warisan orang tua begtu saja berarti dia tidak menaruh hormat terhadap orang tua. Lestarikan budaya lama yang baik, dan terima budaya baru yang relevan.

Sumber referensi : Gayatri Kumala Wardani - Peralatan Pertanian Padi Tradisional di Kota Magetan

4 comments

  1. Buat efisiensi dan meningkatkan produktifitas mau gk mau hrs ngikutin perkembangan jaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar juga sih, harapan saya meski produktifitas adalah point utama, menjaga alat tradisional tetap ada saya rasa ada;ah hal yang sangat baik.

      Delete
  2. Teknologi dibuat untuk mempermudah pekerjaan. Teknologi modern seperti traktor lebih efisien dan hemat waktu dibanding teknologi konvensional seperti membajak sawah memakai kerbau atau sapi.

    Kalau dilihat harga kerbau di kampung saya lebih mahal dibanding dengan harga traktor. Pemeliharaannya pun lebih mudah traktor dari pada kerbau yang lumayan ribet.

    Kalau untuk cangkul sih belum punah karena belum ada pengganti yang lebih baik. Walaupun jika itu ada pasti harga peralatannya mahal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benet banget sih,, selain susah perawatannya, juga mungkin risiko kerugian besar juga, jika kerbaunya jatuh sakit atau mati.

      Delete